MANAJEMEN DAN ORGANISASI



Pengertian manajemen

Secara umum pengertian manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja.
Menurut George R. Terry (1977) menyatakan manajeman adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating,dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggun manusia dan su,ber daya lainnya.
Berikut ini adalah Peranan Manajemen yang harus diperankan para Manajer :
1.    Peran Interpersonal yaitu hubungan antara manajer dengan orang yang ada di sekelilingnya, meliputi ;
-      Figurehead / Pemimpin Simbol : Sebagai simbol dalam acara-acara perusahaan.
-      Leader / Pemimpin : Menjadi pemimpin yag memberi motivasi para karyawan /  bawahan serta mengatasi permasalahan yang muncul.
-      Liaison / Penghubung : Menjadi penghubung dengan pihak internal maupun eksternal.
2.    Peran Informasi adalah peran dalam mengatur informasi yang dimiliki baik yang berasal dari dalam maupun luar organisasi, meliputi ;
a.        Monitor / Pemantau : Mengawasi, memantau, mengikuti, mengumpulkan dan merekam kejadian atau peristiwa yang terjadi baik didapat secara langsung maupun tidak langsung.
b.       Disseminator / Penyebar : Menyebar informasi yang didapat kepada para orangorang dalam organisasi.
c.        Spokeperson / Juru Bicara : Mewakili unit yang dipimpinnya kepada pihak luar.
3.    Peran Pengambil Keputusan adalah peran dalam membuat keputusan baik yang ditentukan sendiri maupun yang dihasilkan bersama pihak lain, meliputi ;
-      Entrepreneur / Kewirausahaan : Membuat ide dan kreasi yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kinerja unit kerja.
-      Disturbance Handler / Penyelesai Permasalahan : Mencari jalan keluar dan solusi terbaik dari setiap persoalan yang timbul.
-      Resource Allicator / Pengalokasi Sumber Daya : Menentukan siapa yang menerima sumber daya serta besar sumber dayanya.
-      Negotiator / Negosiator : Melakukan negosiasi dengan pihak dalam dan luar untuk kepentingan unit kerja atau perusahaan.

Latar Belakang Sejarah manajemen

1.  Manajemen Kuno Mesir (piramid) and China (Tembok Besar China) Bangsa Venesia (lini perakitan kapal perang) 
2.  Adam Smith, mempublikasi “The Wealth of Nations” pd tahun 1776
Pendukung  konsep pembagian/spesialisasi kerja (division of labor: job specialization) untuk meningkatkan produktivitas pekerja
3.  Revolusi Industri mengganti tenaga manusia dg tenaga mesin Menciptakan organisasi besar berdasarkan kebutuhan  manajemen.
4.  Manajemen Ilmiah 
Fredrick Winslow Taylor “Bapak” manajemen ilmiah
Publikasi: Principles of Scientific Management (1911)
Teori Manajemen Ilmiah menggunakan metoda ilmiah untuk menentukan “satu cara terbaik” untuk suatu tugas:
a.   Menempatkan orang yg tepat pd pekerjaan tertentu dg perlengkapan dan alat yg tepat.
b.  Memiliki metoda standar untuk melakukan pekerjaan.
c.   Menyediakan insentif ekonomi kpd pekerja.

5 Prinsip Manajemen Taylor :

a.       Mengembangkan sains bagi setiap elemen kerja individu, yang akan mengganti metoda rule-of-thumb yg lama.
b.      Memilih kemudian melatih, mengajar, dan mengembangkan pekerja secara ilmiah
c.       Bekerjasama secara tulus dg pekerja demi menjamin semua pekerjaan yg dilakukan sesuai dg prinsip-prinsip ilmiah yg telah   dikembangkan.
d.      Membagi kerja dan tanggungjawab secara sama antara manajemen dan pekerja.
e.       .Manajemen mengambil alih seluruh pekerjaan pada saat hal itu lebih layak dilakukan ketimbang para pekerja.

Teori Administrasi Umum  (Henri Fayol)

Percaya bahwa praktik manajemen beda dari fungsi-fungsi organisasi (seperti: produksi,
SDM, pemasaran, atau fungsi lainnya) 
Mengembangkan prinsip-prinsip (14 prinsip organisasi) manajemen yg dapat diaplikasikan di segala situasi organisasi.

14 Prinsip Manajemen ala Fayol :

1.     Pembagian kerja
2.     Kewenangan
3.     Disiplin
4.     Kesatuan komando
5.     Kesatuan arah
6.     Mengutamakan kepentingan organisasi daripada kepentingan individu.
7.     Remunerasi
8.     .Sentralisasi
9.     Rantai Skalar
10.Tatanan
11.Kesamaan
12.Stabilitas personalia
13.Initiatif
14.Semangat kebersamaan.
Max Weber mengembangkan teori kewenangan (authority) berdasarkan pd tipe ideal organisasi (bureaucracy) menekankan pd aspek kemampuan rasionalitas, prediksi, nonpersonal (impersonality), kompetensi teknis, dan otoriter

Fungsi Manajemen

1.      Fungsi perencanaan (planning)
2.      Fungsi pengorganisasian (organizing) termasuk di dalamnya ada Fungsi Staffing (pembentukan staf).
3.      Fungsi pengarahan (directing) 
4.      Fungsi pengendalian (controlling). 

Di bawah ini akan dijelaskan arti definisi atau pengertian masing-masing fungsi manajemen – PODC (Planning, Organizing, Directing, Cotrolling) :
1.      Fungsi Perencanaan / PlanningFungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.
2.      Fungsi Pengorganisasian / OrganizingFungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.
3.      Fungsi Pengarahan / Directing / LeadingFungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
4.      Fungsi Pengendalian / ControlingFungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.

Proses manajemen

Adalah daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara integral, yang dilaksanakan di dalam manajemen secara umum, yaitu proses perencanaan, proses pengorganisasian, proses pelaksanaan dan proses pengendalian, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan secara ekonomis. Sesungguhnya keempat proses itu merupakan hasil ikhtisar dari pelbagai pendapat praktisi dan ahli mengenai manajemen.

Aneka Gagasan antara lain:

a.        Menurut Henri Fayol : "perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, koordinasi".
b.       Menurut Gulick dan Urwick: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, koordinasi, pelaporan dan peranggaran".
c.        Menurut William M. Fox: "Perencanaan, pengorganisasian, pengendalian".
d.       Menurut Ernest Dale: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian, inovasi, representasi".
e.        Menurut Koontz dan O'Donnell: "perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian".

Simpulannya bahwa semua gagasan itu didasarkan pada pra-anggapan yang menghendaki pembagian proses kerja para manajer menjadi bagian-bagian yang dapat dilaksanakan. Proses-proses itu berulangkali dinyatakan sebagai "langkah-langkah dasar manajemen", batu-batu fondasi manajemen.
1.      Proses perencanaan meliputi gagasan bahwa manajemen mengantisipasi berbagai kondisi seperti peluang dan kendala di masa depan, dan berusaha menetapkan lebih dulu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai.
2.      Proses pengorganisasian berarti menempatkan orang dan prasarana serta sarana dan sumberdaya dalam suatu tata-hubungan yang kondusif untuk bekerja sama menuju sasaran bersama.
3.      Proses pelaksanaan meliputi pemberian arahan, perintah kerja, dorongan dan motivasi kerja, serta pemecahan masalah. Sementara itu
4.      Proses pengendalian dilakukan dengan pengamatan, mencermati laporan, dan melakukan inspeksi supaya pekerjaan di semua bagian sesuai dengan persyaratan kualitas dan ketentuan rencana hasil, dan sesuai dengan anggaran biaya. 

Ciri-ciri manajemen professional

Edgar H. Schein dan Borje O. Saxbreg dalam Stoner James A.F. dan Charles Wankel,1988 merumuskan cirri-ciri manajer professional :
1.      Orang-orang yang professional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum, sehingga banyaknya kursus dan program latihan manajemen menunjukkan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebagai patokan khusus.
2.      Orang-orang professional mencapai setatus profesionalnya melalui prestasi bukan melalui favoritism, atau factor lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
3.      Orang-orang professional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya.
4.      Borje O. Saxbreg manyatakan karakteristik keempat adalah profesionalismeyaitun pengabdian dan ketertarikan sehingga dalam setiap bidang orang-orang professional menggabungkan hidup dan pekerjaanya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.



Tingkatan Manajemen  dan Ketrampilan yang dibutuhkan






    
Gambar 1. Tingkatan manajemen dan ketrampilan manajemen
Gambar 1 menunjukan bahwa keterampilan yang dibutuhkan manajer pada setiap tingkatannya. Manajer yang berada di tingkat paling atas, atau disebut top manager, lebih membutuhkan keterampilan konseptual dibanding keterampilan lainnya. Manajemen paling bawah lebih memerlukan keterampilan teknikal seperti akuntansi, komputer, atau keterampilan memperbaiki mesin. Keterampilan ketiga, yaitu keterampilan berkomunikasi, dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. 

PENGERTIAN ORGANISASI

DEFINISI ORGANISASI Menurut Boone dan Katz organisasi adalah : Suatu proses tersusun yang orang-orangnya berinteraksi untuk mencapai tujuan.
Dari definisi dapat disimpulkan bahwa organisasi mencakup 3 elemen pokok : a. Interaksi manusia
b.  Kegiatan yang mengarah pada tujuan
c.   Struktur organisasi itu sendiri

PENTINGNYA MENGENAL ORGANISASI

Kita selalu berkaitan dengan organisasi, tim olah raga dan organisasi sosial, kelompok keagaamaan, bahkan kelompok binatang pun ada, seperti lebah, semut, rayap.
Perusahaan kecil, fungsi pengorganisasian sederhana, misal : toko kelontong, manajerpemilik toko mempekerjakan beberapa orang ; melayani pembeli, membersihkan, mengatur barang, serta menjaga toko.

BENTUK-BENTUK ORGANISASI

1. Organisasi Lini

Garis wewenang yang menghubungkan langsung secara vertical antara atasan dan bawahan
Ciri-cirinya :
-Jumlah karyawan sedikit
-Manajer dibawahnya hanya sebagai pelaksana
-Sarana dan alatnya terbatas
-Hubungan atasan dan bawahan bersifat langsung
-Bentuk lini pada perusahaan perseorangan, pemilik perusahaan adalah top manager

2. Organisasi Fungsional

Wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian yang mempunyai jabatan fungsional untuk dikerjakan para pelaksana yang mempunyai keahlian khusus
Ciri-cirinya :
-Organisasi kecil
-Terdapat kelompok kerja staf ahli
-Spesialisasi dalam pelaksanaan tugas
-Target yang hendak dicapai jelas dan pasti
-Pengawasan ketat

3. Organisasi Garis dan Staff

Pelimpahan wewenang secara vertikal dari pimpinan ke kepala bagian dibawahnya serta masing-masing pejabat, manajer ditempatkan satu atau pejabat staff yang tidak mempunyai wewenang memerintah tetapi hanya sebagai penasihat, misal : kearsipan, keuangan, personel
Ciri-cirinya :
-Hubungan atasan dan bawahan tidak seluruhnya langsung
-Karyawan banyak
-Organisasi besar
-Ada 2 kelompok kerja organisasi sehingga ditekankan adanya spesialisasi :
-Personel Lini
-Personel Staff

4. Organisasi Fungsional dan Garis

Wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian dibawahnya yang mempunyai keahlian tertentu serta sebagian dilimpahkan kepada pejabat fungsional yang koordinasinya tetap diserahkan kepada kepala bagian.
Ciri-cirinya :
-Tidak tampak pembedaan tugas pokok dan bantuan
-Spesialisasi praktis pada pejabat fungsional
-Pembagian kerja dan pelimpahan wewenang tidak membedakan perbedaan tingkat eselon

5. Organisasi Matrik

Disebut juga sebagai Organisasi Manajemen Proyek yaitu penggunaan struktur organisasi menunjukkan di mana para spesialis yang punya ketrampilan di masing-masing bagian dari kegiatan perusahaan dikumpulkan lagi menjadi satu untuk mengerjakan proyek yang harus diselesaikan.

6. Organisasi Komite

Tugas kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh kelompok pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board dengan plurastic manajemen.
Terdiri dari :
-Executive Committe (Pimpinan Komite) Anggotanya mempunyai wewenang lini
-Staff Committee Orang-orang yang hanya mempunyai wewenang staf

PRINSIP-PRINSIP ORGANISASI

Berkaitan dengan pembentukan atau penyusunan suatu organisasi, maka perlu diperhatikan beberapa prinsip-prinsip atau asas organisasin yaitu:
a.        Perumusan Tujuan yang Jelas. Tujuan dan arah merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan suatu organisasi. Karena dari tujuan ini akan terlihat hasil yang akan dicapai baik itu secara fisik maupun non fisik.
b.       Pembagian kerja. Dalam pembentukan suatu organisasi harus terlihat dengan jelas akan pembagian kerja dari masing-masing unit (sub) organisasi, hal ini supaya tidak terjadinya tumpang tindih aktivitas dan dapat menghambat tercapainya suatu tujuan.
c.        Delegasi kekuasaan. Dengan adanya pembagian kerja tersebut yang jelas maka akan telihat pula garis komando dan delegasi kekuasaan (wewenang) dari masing-masing unit kerja.
d.       Rentang kekuasaan. Rentang kekuasaan merupakan penjabaran dari pendelegasian suatu kekuasaan. Parameter dan tolok ukur pun harus menjadi bagian dari rentang kekuasaan, sehingga tidak timbul diktatoris kekuasaan atau kesewenangan kekuasaan tersebut.
e.        Tingkat pengawasan. Penggambaran tingkat pengawasan yang timbul antar atasan dengan sub (unit) bawahannya harus lah terlihat dalam struktur organisasi tersebut. Sehingga batasan apa yang menjadi hak dan kewajiban baik itu atasan maupun bawahan akan tercipta.
f.         Kesatuan perintah dan tanggung jawab. Dengan tergambarnya struktur organisasi yang jelas maka kesatuan perintah atau komando akan terlihat pula. Begitu juga dengan tanggung jawab dari orang yang memberikan delegasi (perintah) akan nampak.
g.        Koordinasi. Ini pun harus terlihat dengan jelas dalam penyusunan suatu organisasi. Koordinasi dari masing-masing divisi atau unit kerja akan tercipta. Dengan demikian tujuan suatu organisasi ini akan semakin  cepat tercapai.
 Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Efektivitas Organisasi
1)      Proses Seleksi (selection)
Organisasi memilih pegawainya bukan secara acak. Para pelamar diproses melalui sejumlah rintangan yang dirancang untuk membedakan para individu yang mungkin dapat berprestasi dengan baik dari mereka yang mungkin tidak akan berhasil. 
2)      Persyaratan Jabatan (role requirement)
Para individu di dalam organisasi mempunyai jabatan.Setiap pekerjaan membawa serta harapan mengenai bagaimana si pemegang jabatan seharusnya berperilaku.
3)      Peraturan, Prosedur, dan Kebijakan (rules, procedures, and policies)
Peraturan merupakan pernyataan eksplisit yang ditujukan kepada seorang pegawai tentang apa yang harus atau tidak boleh dilakukan. Prosedur adalah rangkaian langkah yang saling berhubungan satu sama lain secara sekuensial yang diikuti pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kebijakan adalah pedoman yang menetapkan hambatan terhadap pengambilan keputusan yang dibuat oleh pegawai.
4)      Proses pelatihan (training)
Pelatihan ada yang bersifat on-the-job-training
(misalnya pemagangan, pendampingan (coaching), atau penugasan-penugasan yang bersifat studi), ada pula yang bersifat off-the-jobtraining (ceramah, demonstrasi, simulasi, atau instruksi terprogram).
5)      Ritual (rituals)
Ritual atau upacara adalah semacam
“pengesahan” bahwa seseorang menyandang status tertentu. Formalisasi melalui teknik ini biasanya dilakukan untuk jabatan-jabatan strategis dan memiliki dampak jangka panjang pada perusahaan.  

Sentralisasi
Penjelasan terkait sentralisasi secara lebih khusus yaitu jenjang kepada siapa kekuasaan formal untuk membuat pilihan-pilihan secara leluasa dikonsentrasikan pada seorang individu, unit, atau tingkatan (biasanya berada tinggi pada organisasi), dengan demikian mengizinkan para pegawai (biasanya pada tingkat rendah dalam organisasi) untuk member masukan yang minimal ke dalam pekerjaan mereka (Robbins, 1994 :118).
Sentralisasi dapat dijelaskan juga bahwa hal ini merujuk pada bentuk-bentuk keputusan yang mengandung kebebasan bagi seseorang. Istilah kuncinya adalah pilihan-pilihan bebas
(discretionary choice), “jika dikatakan the director possesses certain discretionary funds, artinya direktur memiliki dana-dana tertentu yang boleh dikeluarkan atau digunakan sesukannya”(Kusdi, 2009:174). Kebebasan dalam memilih ini biasanya di konsentrasikan pada pucuk pimpinan atau level manajemen atas, dan untuk level manajemen bawah tidak mendapatkan peluang dalam memilih keputusan, kecuali pilihan-pilihan bebas ini dalam pelaksanaan tugastugasnya.
Efektivitas Organisasi
Ada pertanyaan timbul bagaimana menilai tingkat keberhasilan organisasi yang sifatnya relatif, serta apa yang diupayakan manajer dan pegawainya untuk mencapai tujuan organisasi.  Menurut beberapa para ahli bahwa yang salah satunya, yaitu “Efektivitas Organisasi didefinisikan sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya” (Robbins, 1994:53).Adapun pendapat yang serupa dengan definisi Robbins yaitu, “Efektivitas Organisasi merupakan tingkat ketepatan pencapaian suatu sasaran dengan memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang ada” (Mohyi, 2012:197).
Berdasarkan kedua pendapat mengenai efektivitas organisasi peneliti mendefinisikan efektivitas organisasi merupakan ketepatan dalam pencapaian organisasi dalam meraih tujuantujuannya dengan memberdayakan sumber daya organisasi.“mempelajari efektivitas organisasi ialah memadukan faktor-faktor organisasi, seperti struktur dan teknologi, dengan faktor-faktor individual, seperti motivasi, rasa keterikatan, dan prestasi kerja” (Steers, 1984:XI). Jadi apabila ada sesuatu atau tujuan yang dicari oleh sebuah organisasi untuk dilaksanakan dengan catatan bahwa sinergi dari faktor organisasi dan perilaku sumber daya manusia yang ada untuk berupaya dalam mencapai tujuan organisasi dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Hubungan Struktur Organisasi dan Efektivitas Organisasi
Uraian teori mengenai struktur organisasi sampai dengan dimensi yang melekat dan penjelasan tentang efektivitas organisasi yang ada diatas cukup dapat membantu peneliti untuk bisa menjelaskan apa yang menjadi hubungan dimensi struktur organisasi dengan efektivitas organisasi.
Pada dasarnya aspek struktur organisasi dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektivitas organisasi, seperti pendapat ini: Para pekerja cenderung menjadi lebih terikat pada organisasi dan merasa lebih puas jika mereka mempunyai kesempatan mendapat tanggungjawab yang lebih besar, jika tugas mereka memungkinkan keterlibatan diri yang lebih besar dan mengandung lebih banyak variasi, jiak ketentuan-ketentuan dan peraturan dibatasi seminimum mungkin, dan jika organisasi dan kelompok kerja tidak terlalu basar (Steers, 198 :81). Jadi sangat jelas dari pendapat tersebut yang isinya secara tidak langsung menjelaskan uraian struktur organisasi ditinjau dari perilaku sumber daya manusianya yang berpengaruh pada efektivitas organisasi.
Seperti pada penjelasan struktur organisasi diatas bahwa “ dari merancang struktur organisasi para pemimpin organisasi mampu menentukan harapan-harapan mengenai apa yang akan dilakukan individu-individu dan kelompokkelompok tersebut dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi” (Ivancevich, 2007:235). Jika struktur organisasi merupakan media yang membantu organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya, maka “efektivitas organisasi didefinisikan sebagai sejauh mana sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya” (Robbins, 1994:53).
 Juga ada yang menjelaskan bahwa “atribut struktur menentukan seberapa luas organisasi mencerminkan dimensi formalisasi, kompleksitas dan sentralisasi.Struktur organisasi berkontribusi pada efektivitas organisasi dan hubungannya dalam menjustifikasi minat kita” (Gibson, 1996:101).
Berdasarkan uraian tersebut sudah dapat menjelaskan hubungan antara struktur organisasi dengan efektivitas organisasi. Kesimpulannya beberapa ahli setuju apabila struktur organisasi dengan variabel kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi membawa pengaruh terhadap efektivitas organisasi dengan kriteria pengukurannya yaitu Manajemen Komunikasidan
Informasi, serta Stabilitas.

Hipotesis
H 1      :Variabel Kompleksitas, Formalisasi, dan Sentralisasi            memiliki          pengaruh         yang signifikan             secara simultan           terhadap
Efektivitas Organisasi
H 2      :Variabel Kompleksitas, Formalisasi, dan Sentralisasi            memiliki          pengaruh         yang signifikan             secara parsial terhadap
Efektivitas Organisasi

METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penjelasan (explanatory research).Penelitian explanatory adalah suatu penelitian yang sering disebut penelitian pengujian hipotesis, yaitu penelitian yang menganalisis hubungan antar variabel-variabel yang dirumuskan.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai tetap Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri yang berjumlah 63 orang pegawai tetap. Sedangkan sampel yang diambil adalah 63 orang pegawai tetap. Maka teknik pangambilan sampel pada penelitian ini menggunakan non probability sampling yakni sampling jenuh.
Teknik analisis data yang digunakan adalah : a. Analisis deskriptif
Analisis deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan data penelitian, seperti lokasi penelitian, data responden yang diteliti beserta distribusi item dari masing – masing variabelnya yang ditabulasikan dalam bentuk tabel untuk kemudian dibahas secara deskriptif. Tolak ukur dari pendeskripsian itu adalah dengan pemberian angka, baik dalam jumlah maupun prosentase.
b. Analisis Inferensial
Analisis inferensial juga berfungsi untuk meramalkan dan mengontrol keadaan atau kejadian. Analisis inferensial yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Linier Berganda. Agar dapat memperoleh nilai estimasi terbaik atau tidak bias maka sebelum dilakukan analisis hasil model regresi terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik.  
Pemenuhan Asumsi Klasik
1) Uji Normalitas
Pengujian normalitas data dengan metode grafis di mana data menyebar di sekitar garis diagonal dan arahnya mengikuti arah garis diagonal
2) Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas berarti adanya variasi residual yang tidak sama untuk semua pengamatan, atau terdapatnya variasi residual yang semakin besar pada jumlah pengamatan yang semakin besar. Pengujian gejala heterokedastisitas menggunakan  scatterplot

Berdasarkan Gambar 2 terlihat titik – titik menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu  yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas  pada model regresi.
3) Uji Multikolinearitas
Suatu model regresi terbebas dari multikolinieritas jika nilai VIF (Variance Inflation Factors) dari masing – masing variabel independen kurang dari 5 dan nilai toleransi mendekati  
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai VIF kurang dari 5 dan mempunyai angka tolerance mendekati 1, sehingga model regresi dalam penelitian ini bebas dari problem multikolinearitas.

Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi pada dasarnya merupakan pengujian terhadap derajat signifikansi hubungan dan besarnya pengaruh dari variabel bebas (independen) terhadap variabel terikat (dependen). Pengujian ini dapat dilakukan dengan dua cara, pertama dengan uji F yang digunakan untuk mengetahui besarnya koefisien regresi atau menguji tingkat signifikansi keempat variabel bebas terhadap variabel terikat, sedangkan cara yang kedua adalah dengan uji t agar dapat melihat koefisien regresi parsial yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengaruh masing – masing dari struktur organisasi dengan dimensi yang terdiri dari variabel bebas (independen) yaitu kompleksitas, formalisasi, sentralisasi terhadap variabel terikat (dependen) yaitu efektivitas organisasi. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 17.00 for windows
Pengujian Hipotesis
Uji Simultan (Uji F)
Uji F ini dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompleksitas (X1), Formalisasi (X2), dan Sentralisasi (X3) terhadap Efektivitas Organisasi (Y) secara simultan. Pengujian ini dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95% atau tingkat signifikan 5% (=0,05).
Pada tabel di atas didapatkan nilai F hitung sebesar 28,991 dan nilai signifikansi sebesar
0,000. Karena nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel(28,991 > 2,751) atau nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5% (0,000<0,050), maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima,maka dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Kompleksitas (X1), Formalisasi (X2), Sentralisasi (X3) secara simultan terhadap variabel Efektivitas Organisasi (Y) denganbatas kesalahan 5%.
Berdasarkan hasil pengujian regresi linier berganda pada tabel tersebut, diketahui bahwa R (koefisien korelasi) sebesar 0,772.Hal ini menunjukan bahwa pengaruh variabel
Kompleksitas (X1), Formalisasi (X2), Sentralisasi (X3) secara simultan terhadap variabel Efektivitas Organisasi (Y) bisa disebut kuat.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENGEFEKTIFKAN ORGANISASI  
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan. 

Jenis-jenis Keputusan

Keputusan biasanya terbagi menjadi dua jenis. 
1.         Keputusan pribadi merupakan keputusan yang diambil untuk kepentingan diri sendiri dan dilakukan secara perorangan. 
2.         Keputusan bersama merupakan keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama dan untuk kepentingan bersama. Keputusan bersama tidak boleh menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lain. 

Kategori Pengambilan Keputusan

Keputusan jika dilihat dari cara memperoleh informasi dapat dikategorikan menjadi empat :
1.         Keputusan Representasi merupakan keputusan yang dihadapi dengan informasi yang cukup banyak, dan mengetahui dengan tepat bagaimana memanipulasi informasi tersebut. 
2.         Keputusan Empiris merupakan keputusan yang kurang memiliki informasi namun mengetahui bagaimana memperoleh informasi dan pada saat informasi itu diperoleh.
3.         Keputusan Informasi merupakan keputusan yang kaya akan informasi, tetapi diliputi dengan kontroversi tentang bagaimana memperoleh informasi itu, dan selanjutnya akan menghasilkan keputusan informasi. 
4.         Keputusan Eksplorasi merupakan keputusan yang kurang akan informasi dan tidak ada kata sepakat yang dianut untuk memulai mencari informasi serta tidak tahu dari mana usaha pengambilan keputusan akan dimulai. 

Mengefektifkan Perencanaan Sebuah Organisasi

Jadi, perusahaan multinasional akan lebih banyak menaruh  perhatian pada perencanaan jangka panjang daripada sebuah penjual eceran lokal.  Beberapa organisasi, seperti perusahaan- perusahaan minyak, pertambangan, penerbangan atau departemen pertanahan harus membuat rencana-rencana jangka panjang, karena ada maksud dan tujuan-tujuan yang khusus. Tetapi, perencanaan jangka panjang masih tetap akan diperlukan yaitu untuk pemilihan personil dan penyempurnaan teknik serta kemampuan produksi. Karena itu adalah penting bagi para manajer untuk mengerti peranan perencanaan jangka pendek dan jangka panjang dalam pola perencanaan secara keseluruhan.
Pengambilan keputusan dibutuhkan ketika kita memiliki masalah yang harus diselesaikan dengan memuaskan. Situasi masalah tersebut yang menjadi masukan pertama dalam sistem pembuatan keputusan. Pembuatan keputusan dengan pengetahuan, pengalaman, dan data yang diperoleh atau dikumpulkan berkaitan dengan masalah.
Pengambilan keputusan ialah proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. 
Pengambilan keputusan dalam fungsi-fungsi manajemen itu meliputi:
1.         Perencanaan Apa tujuan akhir organisasi?
Strategi apa yang digunakan dalam mencapai tujuan?
2.         Pengorganisasian Bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu dirancang?
3.         Penggerakan Bagaimana menggerakkan pegawai agar mereka berkinerja tinggi?
4.         Bagaimana kepemimpinan dapat mengefektif organisasi?
5.         Pengawasan Aktivitas apa saja dalam organisasi yang harus diawasi?
6.         Dalam hal apa saja penyimpangan terjadi?
7.         Bagaimana menggerakkan organisasi secara efektif?
Kerangka Kerja Yang Ada Dalam Sistem Pengambilan Keputusan
Setiap proses pengambilan keputusan merupakan suatu sistem tindakan karena ada beberapa komponen didalamnya. Menurut Pradjudi (1997:45), kerangka kerja yang ada dalam sistem pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
1.         Posisi orang yang berwenang dalam mengambil keputusan
2.         Problema (penyimpangan dari apa yang dikehendaki dan direncanakan atau dituju)
3.         Situasi si pengambil keputusan itu berada
4.         Kondisi si pengambil keputusan (kekuatan dan kemampuan menghadapi problem)
5.         Tujuan (apa yang diinginkan atau dicapai dengan pengambilan keputusan).
Keputusan adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan keputusan. Menentukan pilihan (memutuskan) atau arah tindakan tertentu bagi organisasi adalah keputusan. Secara umum keputusan dibagi menjadi dua jenis sebagai berikut:
1.         Keputusan strategis, setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau keputusan organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
2.         Keputusan operasional, adapun keputusan operasional menyangkut pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak (Drummond,1995:13).
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan menurut Terry, yaitu :
a.    Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
b.   Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
c.    Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih mementingkan kepentingan organisasi.
d.   Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.
e.    Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan fisik.
f.    Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.
g.   Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
h.   Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.
i.     Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.
Pengambilan keputusan yang efektif menjadi tolak ukur kepemimpinan yang efektif pula. Tetapi kepemimpinan efektif  tidak hanya membolehkan diskusi diantara kelompok, tetapi juga mengizinkan mereka berpartisipasi dalam melaksanakan pengambilan keputusan. Jika mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan mendiskusikan persoalan yang relavan bagi mereka maka partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan tidak akan sukses.

Jenis-jenis pengambilan keputusan

1.         Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorientasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
2.         Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif daripada pembuat keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil keputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
3.         Gaya Konseptual
Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah. Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4.         Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

1.      Faktor Fisik
2.      Emosional
3.      Rasional
4.      Praktikal
5.      Interpersonal dan Struktural
Keputusan dapat diambil dengan cara individual & kelompok, individual contohnya seperti pengambilan keputusan yang diambil oleh manager saja tanpa adanya rapat kerja atau diskusi. Sedangkan kelompok merupakan pengambilan keputusan yang prosesnya melalui hasil dari rapat atau diskusi bersama.

Tahapan Atau Proses Pengambilan Keputusan 

Untuk mendapatkan hasil yang baik Pengambilan keputusan haruslah melalui beberapa proses, diantaranya :
1.              Identifikasi masalah
2.              Pengumpulan & penganalisasi data
3.              Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
4.              Pemilihan salah satu alternatif terbaik
5.              Pelaksanaan keputusan

Proses yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Proses yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi yaitu :
1.     Adanya Pengaruh Tekanan Dari Luar
Adanya pengaruh tekanan dari luar merupakan suatu proses  yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, dikarenakan proses cepat atau lambatnya pembuat keputusan tergantung dari banyaknya tekanan diterima. Kadang pembuat keputusan ragu-ragu dalam menentukan, namun adanya pengaruh tekanan dari luar dapat mempercepat keputusan yang diambil. Hal ini dikarenakan tidak adanya ketegasan dari pemimpin organisasi dalam penyelesaian masalah.
2.     Adanya Pengaruh Kebiasaan Lama Atau Sifat-Sifat Pribadi
Faktor sifat yang baik maupun tidak baik yang ada dalam diri seorang pembuat keputusan, merupakan hal yang dapat mempengaruhi keputusannya tersebut . Dalam hal ini seorang pembuat keputusan akan terbiasa dengan sifat pribadinya. Hal ini dapat dilihat dari sisi kepribadian seorang pemimpin, bagaimana dia mengambil sebuah keputusan dalam menghadapi masalah. Tentunya seorang pemimpin organisasi harus bijaksana dalam bersikap ketika ada masalah dan mengambil keputusan.
3.     Pengaruh Dari Kelompok Lain
Kelompok lain juga dapat mempengaruhi suatu keputusan dikarenakan kelompok atau organisasi tersebut mempunyai keputusan yang dapat dipertimbangkan oleh pemimpin organisasi lain dalam menyikapi masalah dan pengaruh kelompok lain ini juga dapat menjatuhkan organisasi serta mementingkan kepentingan kelompok tersebut.
4.     Faktor Pengalaman
Faktor pengalaman seorang pembuat keputusan adalah hal yang sangat penting, karena banyaknya pengalaman orang tersebut maka ia akan berani dalam menentukan keputusan. Hal ini juga berkaitan terhadap keahlian yang dimiliki oleh pemimpin atau anggota karena pengalaman yang pernah dialaminya.
Sumber : 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penulisan ePSXe 1.7.0, emulator Playstation 1 di laptop/pc

STANDARISASI PENGUKURAN

PEMILIHAN PILKADA